My World and Anesthesia: The Curious Case of Mr. S

Sabtu, 28 Februari 2009

The Curious Case of Mr. S

Sebagai seorang dokter anestesi, kita sering diminta untuk membantu kelancaran tindakan medis di luar kamar operasi, seperti di bagian radiologi, bronkoskopi, endoskopi dan lain sebagainya. Salah satu pengalaman menarik yang tak pernah kulupakan adalah ketika aku diminta membantu tindakkan myelografi di bagian radiologi rumah sakit tempatku bekerja .


Inilah kisahnya...............


Hari itu, hari Selasa tanggal 10 Febuari 2009, pukul 11.00


Aku diminta untuk melakukan tindakan myelografi pada seorang pasien laki-laki usia 45 tahun, yang datang dirujuk dari rumah sakit lain dengan diagnosis sementara HNP progresif. pasien ini sudah pernah menjalani pemeriksaan MRI di Johor, dan pernah menjalani myelografi 3 tahun sebelumnya. Tetapi keluhannya bertambah parah selama selang waktu tersebut.


Singkatnya, setelah dilakukan informed consent dan penjelasan tindakan yang dilakukan, pasien diposisikan duduk dan kulakukan lumbal pungsi setinggi L4-5. Sesuai dengan protokol myelografi, diambil cairan serebrospinal dan kemudian diganttikan dengan kontras iopamidol. Pasien kemudian diposisikan diatas meja CT scan, dengan posisi head up.


Selama proses myelografi tidak ada kejadian khusus. Tetapi setelah selesai proses myelografi, dan pasien berusaha duduk, tiba-tiba ia merasakan sakit di seluruh tungkai bawahnya daan dianjurkan untuk beristirahat dan diberikan obat analgetik. Pasien kemudian diobservasi di IGD dan kondisi pasien stabil. Satu jam kemudian pasien mengalami kejang.


Kejang-kejang yang terjadi bersifat tonik klonik, dan berlulang-ulang. Pasien segera kulakukan intubasi dan diberikan obat sedasi midazolam dan dirawat di ICU. Selama perawatan di ICU pasien masih mengalami kejang-kejang. Tindakan yang dilakukan bersifat suportif dan selama perawatan hari pertama dan kedua di ICU pasien ditidurkan dengan menggunakan midazolam dan diberikan pelumpuh otot vecuronium.


Hasil CT Scan kepala hari pertama menunjukkan adanya kontras yang masuk ke dalam jaringan otak.



hari kedua pasien telah sadar dan kemudian dilakukan ekstubasi. Pada hari ketiga dilakukan CT Scan ulang dengan hasil menakjubkan tidak ada sisa kontras pada jaringan otak dan tidak terdapat kelainan lain

Pasien pulang ke rumah hari keempat tanpa ada gejala sisa.

Berdasarkan hasil myelografi kami dapatkan pada pasien ini terdapat penyempitan canalis vertebralis yang disertai proses peradangan. Ini mungkin yang menyebabkan kontras yang dimasukkan dapat merambat ke jaringan otak



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar